Calon Guru dalam Dunia yang Penuh Warna: Mengenal Profesi Jurnalis Sebagai Profesi Alternatif

Anton Bahtiar Rifa’i

Abstract


Kehidupan yang kita jalani terkadang memunculkan “jalan setapak”. Jalan yang semula tak ada kemudian menjelma sebagai jalan yang kita tempuh, kita yakini, dan kita perjuangkan. Saya mengalami fase ini ketika memilih profesi jurnalis sebagai jalan hidup. Ketika saya memutuskan studi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, jalan menuju profesi jurnalis pada mulanya tidak terlihat. Namun, ketika saya mulai memiliki minat di bidang jurnalistik, dan memperjuangkannya sebagai sebuah cita-cita, maka jalan menuju profesi jurnalis kemudian terbentang di depan mata. Ya, saya adalah calon guru yang kemudian menjadi jurnalis.

Full Text:

PDF

References


Baran, S. J. & Dennis K. D. (2013). Mass Communication Theory, Foundations, Ferment, and Future. Stamford USA: Cengage Learning.

Kusumaningrat, H., & Kusuma, K. (2017). Jurnalistik Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Natalia, D. L. (2019). Media Massa dan Pemberitaan Pemberantasan Korupsi di Indonesia.

INTEGRITAS: Jurnal Antikorupsi, 5(2), 57-73.

Yudhapramesti, P. (2015). Jurnalis dan Jurnalisme dalam Fenomena Kontemporer. Jurnal Komunikasi, 10(1), 89-98.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
PROCEEDING AISELT (Annual International Seminar on English Language Teaching) is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Copyright @ Universitas Sultan Ageng Tirtayasa [Untirta]. All rights reserved.

View My Stats